Kisah Seekor Anak Kerang

Baca Offline:
Kisah Seekor Anak Kerang

Pada suatu ketika saya pernah mendengar sebuah kisah. Kisah ini merasa perlu untuk saya ceritakan karena mengandung amanat yang dapat menginspirasi hidup kita. Meskipun kisah ini tidak benar-benar terjadi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah ini berawal ketika pada suatu hari terjadi badai di lautan. Ombak bergulung-gulung sedemikian dahsyatnya. Angin bertiup sangat kencang. Pada waktu itu tak ada satupun makhluk yang mau menampakkan diri. Manusia, ikan-ikan, dan seluruh penghuni lautan bersembunyi menyelamatkan diri dari amukan badai.

Tak lama kemudian badai berangsur-angsur mereda. Lautan kembali menjadi tenang. Anginpun telah pergi entah kemana. Setelah semua kembali menjadi tenang. Sayup-sayup terdengar suara menangis dan merintih.

“Ibu.. Ibu..! Badanku sakit dan pedih..”

“Ada batu kerikil yang masuk terselip di dalam tubuhku,” terdengar suara kecil merintih.

Suara itu terus merintih dan menangis sehingga tak tahan lama-kelamaan terdengar suara seorang Ibuk menjawab, “Anakku bertahanlah…!”

“Bersabarlah, anakku!”

“Kamu tahu, kita ini adalah bangsa kerang. Ditakdirkan tidak memiliki tangan seperti manusia sehingga Ibu tidak bisa mengambil kerikil yang masuk terselip di dalam tubuhmu.”

“Tetapi rasanya sakit sekali, Ibuk..!” Jawab anak kerang tersebut.

“Ibuk tahu, anakku. Biasakanlah dirimu dengan rasa sakit itu. Memang rasa sakit itu tidak akan hilang, tetapi lama-kelamaan kamu akan terbiasa dengan rasa sakit itu.”

Akhirnya anak kerang itu diam menahan rasa sakit dalam tubuhnya. Setelah sekian lama waktu berlangsung akhirnya kerang itu menjadi seekor kerang dewasa. Kerikil di dalam tubuhnya sudah tidak terasa sakit lagi karena air matanya yang sekian lama menetes membalut kerikil di dalam tubuhnya. Ujung-ujung runcing kerikil tersebut menjadi halus dan licin terbalut air mata yang semakin lama mengeras. Kerikil itu telah menjadi sebutir mutiara dan nasib anak kerang tersebut tidak hanya berakhir di meja makan. Anak kerang tersebut telah berhasil menjadikan dirinya memiliki nilai lebih. Ia juga telah mampu menghasilkan sebutir mutiara yang mahal harganya.

Tidak semua kepedihan harus dihindari. Tidak semua derita harus ditinggalkan. Melalui perih, sakit, dan kepedihan jika kita bisa bertahan maka akan mengarahkan kita menjadi manusia yang berharkat, bermartabat mulia karena memiliki kebermanfaatan dalam kehidupan.

Doaku untuk semua siswa-siswi SDN Sine 1 akan menjadi manusia-manusia yang berkarakter mulia, mandiri, dan bermanfaat bagi kehidupan dan sesama. Amin.

Baca Offline: