Parafrasa Puisi Perhitungan Sitor Situmorang

Baca Offline:

Parafrasa atau parafrase seperti yang sering salah kita tuliskan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia parafrasa berarti; 1 pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi yg lain tanpa mengubah pengertian; 2 penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata-kata) yg lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi. Sejalan dengan pengertian tersebut, wikipedia menuliskan bahwa parafrasa adalah istilah linguistik yang berarti pengungkapan kembali suatu konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, namun tanpa mengubah maknanya (https://id.wikipedia.org/wiki/Parafrase; 2019).

Merunut pada pengertian parafrasa pada KBBI maka segala macam bentuk tuturan atau teks dapat diparafrasakan untuk memperjelas makna yang terkandung di dalamnya. Dialog drama, syair, dan puisi merupakan beberapa contoh bentuk tuturan/karangan yang dapat diparafrasakan. Pada umumnya puisi merupakan salah satu bentuk bahasa yang paling sering diparafrasakan. Hal ini didasarkan pada kebiasaan para penulis puisi yang sengaja menyembunyikan makna tulisannya demi mendapatkan nilai estetis atau demi alasan lain.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan permintaan dari salah seorang kawan dekat untuk memparafrasakan satu puisi karangan Sitor Situmorang. Beginilah puisi itu:

Puisi: Perhitungan
Sitor Situmorang (1923-2014)

Buat Rivai Apin


Sudah lama tidak ada puncak dan lembah
Masa lempang-diam menyerah
dan kau tahu di ujung kuburan menunggu kesepian
Aku belum juga rela berkemas
Manusia, mengapa malam bisa tiba-tiba menekan
dada?
Sedang rohnya masih mengembara di lorong-lorong
Keyakinan dulu manusia bisa
hidup dan dicintai habis-habisan
Belum tahu setinggi untung bila bisa menggali
kuburan sendiri
Rebutlah dunia sendiri
dan pisahkan segala yamg melekat lemah
Kita akan membubung ke langit menjadi bintang
jernih sonder debu
Detik kata jadikan abad-abad
Abad-abad kita hidupi dalam sekilas bintang
Sesudah itu malam, biarlah malam
Bila hidup menolak
Ia kita tinggalkan seperti anak
yang terpaksa puas dengan boneka
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tapi tak ada lagi kita
Sedang mereka rindu pada cinta garang
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tentang abad dan detik yang ‘lah terbenam
Bersama kita, tarian perawan janda …

Sesaat setelah disodori lembaran puisi tersebut, kemudian membacanya. Saya berusaha menyelami dan menangkap maksud dari puisi tersebut. Usaha itu gagal. Tidak sedikitpun makna yang dapat saya pahami melalui teknik membaca cepat yang cukup saya kuasai.

“Sitor ini ngapain pula bikin puisi kok susah dimengerti seperti ini,” protesku dalam hati.

Lalu lembaran puisi tersebut saya bawa pulang. Semalaman merenung di depan meja perenungan akhirnya puisi tersebut berhasil diparafrasakan. Demikianlah hasilnya:

Pada akhirnya semua manusia akan mati. Tidak satupun manusia yang dapat menolaknya. Di alam kematian semua terasa datar dan sepi.

Ketika saat kematian itu telah tiba. Kadang-kadang kita tidak siap untuk menghadapinya. Seringkali roh kita masih terikat kuat melekat pada dunia.

Banyak di antara kita sering terjebak pada keyakinan dan berpikir bahwa kita akan dapat hidup bahagia sesuai yang kita harapkan. Sibuk mengejar harapan dan idealisme itu sehingga membuat manusia lupa untuk menyiapkan diri menghadapai kematian.

Kejar dan perjuangkan cita-cita, harapan, dan semua keinginan atas dunia ini tetapi senantiasa buatlah agar dirimu tetap sadar.

Bebaskankalah diri ini dari segala keterikatan dunia yang membuat kita lemah untuk menghadapi kematian. Agar ketika kita mati roh kita segera dapat membubung tinggi menuju nirwana.

Seringkali kita lupa dan beranggapan bahwa kita akan hidup kekal di dunia ini. Kerap kali kita tidak sadar bahwa hidup kita hanya sebentar seperti sekilasan berkas cahaya yang melintas. Setelah semua itu berlalu akhirnya baru sadar tiba-tiba kematian itu telah berada di depan mata.

Ketika kita harus pergi meninggalkan dunia ini, sesungguhnya kehidupan tetap akan berjalan sebagaimana mestinya. Kehidupan duniawi tetap akan memainkan perannya untuk membelenggu jiwa-jiwa yang terlalu mencintai kehidupan duniawi. Tanpa kitapun kehidupan di dunia ini tetap akan selalu memanggil jiwa-jiwa yang belum terpenuhi keinginannya untuk selalu mengikatkan diri pada dunia ini.

Begitu puisi tersebut berhasil diparafrasakan. Bahkan bahasa parafrasanyapun masih terasa seperti puisi. Saya terhenyak. Ternyata maknanya sangat dalam. Amanatnya mampu membangunkan jiwa untuk berhenti sejenak. Berhitung, memperhitungkan, mengingatkan, dan mengukur kembali perjalanan kehidupan seorang manusia.

Baca Offline: