Kisah Seorang Penebang Kayu

Baca Offline:

Masih tampak jelas di dalam ingatan ketika aku dulu masih seusia SD. Setiap pulang sekolah, orang tuaku selalu menyuruhku untuk pergi tidur siang. Mereka bilang bahwa aku perlu dan harus tidur siang. Mereka berharap agar ketika sore/malam aku punya cukup tenaga yang cukup untuk kembali belajar.

Ahh.., tidur siang. Membosankan.. Mendingan main bersama teman-teman.., tolakku dalam hati.

Meskipun kedua orang tuaku memerintahku untuk tidur siang, aku selalu mencuri kesempatan untuk melarikan diri dari kewajiban siang itu. Untuk itu biasanya aku pura-pura tidur. Sambil menunggu orang tuaku lengah mengawasi. Begitu ada kesempatan, aku segera lompat jendela kamar dan melarikan diri menuju tempat teman-teman berkumpul.

Penolakan terhadap perintah orang tua itu terus ku lakukan hingga pada suatu ketika membaca satu buku yang menceritakan kisah yang merubah kebiasaanku. Kisah di dalam cerita itu sebenarnya sangat sederhana tetapi cukup mengena hingga aku mulai berpikir untuk mencoba menurut pada perintah kedua orangtuaku. Cerita itu berjudul “Kisah seorang Penebang Kayu”.

Begini kisahnya…

Pada suatu hari ada seorang pengusaha/pedagang kayu membutuhkan seorang penebang kayu untuk keperluan usahanya. Akhirnya datanglah satu orang penebang kayu menerima tawaran pengusaha itu. Pada hari pertama penebang kayu tersebut mampu menebang pohon cukup banyak. Ia mampu merobohkan 8 batang pohon untuk diambil kayunya. Pengusaha/pedagang kayu tersebut merasa sangat senang dengan hasil kerja pekerja barunya itu.

Hebat kamu! Kamu berhasil merobohkan 8 batang pohon sekaligus hanya dalam satu hari, puji pengusaha tersebut. Sekarang pulanglah dan ambil upahmu untuk hari ini. Jangan lupa untuk datang lagi esok hari!

Pada keesokan hari penebang kayu tersebut kembali datang untuk bekerja kembali seperti biasa. Maka mulailah ia bekerja penuh semangat seperti hari sebelumnya. Hingga senja datang menjemput untuk mengakhiri pekerjaannya pada hari itu, ia hanya berhasil menebang 5 batang kayu. Merasa sedikit aneh dengan hasil kerjanya pada hari itu, penebang kayu tersebut bertekad kembali bekerja pada esok harinya dengan semangat dan daya yang lebih besar lagi. Namun apa yang terjadi? Bukannya mendapatkan hasil kerja yang lebih baik, si Tukang kayu itu justru mendapat hasil yang jauh berkurang. Pada hari ke-3 ia hanya berhasil menebang 3 batang pohon untuk diambil kayunya. Dengan penuh rasa kecewa si tukang kayu tersebut datang menghadap tuannya.

Tuan, saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil yang baik. Tetapi ternyata semakin hari, hasil tebangan kayu semakin berkurang. Tidak seperti yang saya dan tuan harapkan. Untuk itu ijinkanlah saya mengundurkan diri dari pekerjaan ini.

Mendengar hal itu, pengusaha kayu tuan dari si penebang kayu tersebut berkata sambil tersenyum.

Wahai, engkau si Penebang kayu. Pada hari pertama hasil kerjamu sangat bagus. Pada hari kedua dan ketiga hasil kerjamu jauh berkurang. Tidakkah kamu pernah berpikir untuk mencoba mengasah kapak yang kamu gunakan untuk menebang kayu? Pulanglah, asahlah kapakmu, dan kembalilah bekerja esok hari!

Akhirnya penebang kayu tersebut pulang dan mengasah kapaknya hingga menjadi sangat tajam. Pada keesokan harinya penebang kayu itu kembali bekerja seperti biasanya dan menghasilkan kayu yang cukup banyak seperti pada hari pertama ia bekerja. Penebang kayu itupun merasa puas dengan hasil kerjanya.

Anak-anakku. Menjadi sesuatu yang sangat penting untuk menjaga otak kita tetap segar dan terjaga ketajamannya. Kemampuan mengelola waktu mutlak diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan jasmani dan rohani. Lakukan hal tersebut untuk menjadi manusia yang seimbang, sehat, berprestasi, dan bermanfaat bagi kehidupan.

Muliakanlah hidupmu!
Wassalam.

Baca Offline: