Semesta Alam Mendukung

Baca Offline:

Jika telah memahami konsep ini, apapun yang kita inginkan dapat diwujudkan.

Mestakung atau Semesta Alam Mendukung adalah suatu konsep yang digagas oleh Prof. Yohanes Surya, Ph. D. Satu kata yang penuh makna. Melalui konsep ini Prof. Yohanes Surya, Ph.D., berhasil mengantarkan putra-putri Indonesia menjadi juara dunia Olimpiade Fisika di Singapura (2006). Ternyata, konsep Mestakung ini merupakan suatu konsep yang terlahir dari fenomena hukum fisika yang disebut fenomena kritis (critical phenomena). Fenomena kritis adalah suatu kemampuan mengatur diri pada keadaan kritis tanpa disadari oleh pelakunya.

Apakah itu mestakung?

Profesor Yohanes Surya mengilustrasikan keadaan fenomena kritis ini dengan beberapa contoh. Salah satu di antaranya adalah dengan bukit pasir. Pada saat seseorang menuangkan pasir secara terus menerus maka bukit pasir itu akan semakin tinggi dan besar. Pada saat bukit pasir mencapai suatu ketinggian tertentu yang disebut ketinggian kritis terjadilah suatu keanehan. Pada ketinggian kritis, ketika butiran pasir terus dijatuhkan, butir-butir pasir ini mengatur dirinya, mempertahankan agar kemiringan bukit pasir tidak berubah. Bukit pasir menjadi semakin besar, tetapi kemiringan tetap sama. Pasir-pasir ini seperti memiliki otak untuk menghitung agar kemiringan bukit pasir tidak berubah (http://www.yohanessurya.com/activities.php?pid=401&id=71). Pada gambaran keadaan inilah dapat dirasakan bahwa ada peran serta dan dukungan alam dalam keadaan kritis untuk menyeimbangkan keadaan.

Dalam contoh yang lain, hukum mestakung digambarkan pada keadaan ketika seorang dikejar anjing galak, orang itu berada pada kondisi kritis. Pada keadaan ini sel-sel tubuh orang tersebut mengatur diri. Sel-sel ini secara serentak mengubah ATP (Adenin Tri phospat) menjadi ADP (Adenin Diphospat) dengan melepaskan phospatnya. Pengubahan ini menghasilkan energi ekstra yang digunakan untuk keluar dari kondisi kritis ini. Yang semula orang itu hanya bisa melompat 1 meter, kini secara tiba-tiba mampu melompat lebih dari 1,5 meter.

Pada dasarnya hukum mestakung ini dapat diuraikan menjadi tiga hukum yaitu hukum kritis, hukum melangkah, dan hukum tekun. Prof. Johanes Surya, Ph.D. meringkasnya menjadi krilangkun. Hukum kritis adalah seperti yang sudah di jelaskan di atas. Hukum melangkah adalah hukum yang menyatakan bahwa untuk dapat keluar dalam kondisi kritis maka seseorang atau apapun harus melangkah. Jika seseorang atau apapun itu tidak melangkah maka seseorang atau apapun itu justru akan hancur tergilas oleh fenomena kritis tersebut. Ketika seseorang atau apapun itu mau melangkah dari keadaan kritis maka jalan keluar akan terlihat. Ketekunan adalah hukum terakhir dari hukum mestakung. Setelah adanya jalan keluar maka diperlukan ketekunan untuk menghadapi segala macam kendala yang ditemui untuk keluar dari kondisi kritis tersebut.

Lahirlah pemenang!

Sesudah dilaluinya kondisi kritis maka akan terlahir keadaan baru yang berbeda dan lebih baik dari keadaan semula. Seseorang yang telah berhasil keluar dari permasalahan ia telah menjadi manusia baru. Manusia yang memiliki kepribadian baru dan karakter baru yang lebih kuat.

Tetapkan tujuanmu dan mestakunglah!

Tempatkan diri kalian pada keadaan yang tepat. Alam semesta siap memberikan dukungan kepadamu dengan gratis. Alam hanya memintamu melangkah, dan lihatlah bahwa ada jalan keluar untuk menuju tujuan itu kemudian bertekunlah.

Baca Offline: