Meditasi untuk Pengembangan Diri I

Baca Offline:

Suatu waktu saya pernah membaca tulisan seorang meditator dalam negeri. Dalam tulisannya ia berujar bahwa meditasi bukan sekedar menghela dan menghembuskan nafas. Meditasi adalah suatu proses menyatukan kehendak dalam satu aktifitas bernafas. Melalui meditasi tumbuh kesadaran akan kekinian. Ia berkeyakinan bahwa kegelisahan disebabkan oleh trauma masa lalu dan kekhawatiran pada masa mendatang.

Banyak orang sependapat bahwa bernafas merupakan aktifitas dasar dalam keberlangsungan kehidupan. Melalui bernafas seorang manusia mendapatkan pasokan oksigen. Oksigen diikat oleh darah di dalam paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Sel-sel tubuh yang sudah jenuh kemudian mengangkut dan mengembalikan gas buang berupa karbon dioksida pada saat menghembuskan nafas. Kemudian karbon dioksida yang terlepas diserap oleh tumbuh-tumbuhan dalam proses fotosintesis. Berputar terus dan saling terkait. Untuk itulah seorang meditator sejati memiliki kepedulian dan sifat kasih yang lebih baik. Rutinitas aktifitasnya mampu membangunkan kesadaran pada keterikatan dirinya dengan elemen-elemen lain pada semesta alam. Terbangun secara terus menerus melalui aktifitas meditasi.

Praktisi meditasi pasti tahu, bahwa mereka akan merasakan datangnya perasaan bahagia ketika tenggelam dalam aktifitas meditasi. Hingga mereka menjadi sadar dan tumbuh keyakinan baru. Menjadi suatu kekeliruan jika terlalu meletakkan kebahagiaan pada hal-hal yang bersifat material. Keseimbangan antara material dan immaterial menjadi suatu keniscayaan pada tujuan seorang meditator.

Bagaimana jika sedang gelisah?
Apakah seseorang bisa melakukan satu aktifitas dengan baik?
Apakah seorang pelajar bisa belajar dengan sempurna ketika sedang gelisah atau dihantui oleh perasaan khawatir?

Tentunya semua sependapat untuk menjawab tidak pada pertanyaan di atas. Amatilah diri ketika sedang panik. Pada saat sedang panik seseorang justru tidak mampu menyelesaikan kegiatannya dengan baik. Perasaan panik hanya boleh digunakan sebagai triger untuk merespon suatu keadaan tertentu saja. Tidak untuk dijadikan sebagai teman dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Kembalikan perhatian pada nafas. Sadarilah, di sanalah semua kehidupan dimulai. Ketika manusia baru yang masih bayi terlepas dari rahim seorang ibu. Menangislah, bernafaslah. Di situlah kehidupan berawal. Sadarilah pula, kehidupan ini merupakan suatu siklus. Siklus kecil dalam putaran yang lebih besar dan demikian seterusnya. Tidak seorangpun dapat berkehendak di mana ia dilahirkan. Demikian pula tidak seorang pun dapat berkehendak oleh siapa seseorang dilahirkan. Cukup hanya menyadari bahwa seorang anak manusia diberi kewenangan untuk berkehendak dan mewujudkan bagaimana ia kelak mengakhiri hidupnya. Berakhir sebagai manusia ala kadarnya ataukah menjadi seorang manusia mulia yang penuh manfaat dalam kehidupannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pelajar adalah anak sekolah terutama pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan. Sebutannya yang lain adalah anak didik, siswa, dan murid. Jika mau memperluas makna pelajar, kata pelajar dapat diperluas maknanya tidak hanya terbatas pada anak sekolah yang belajar di sekolah. Orang dewasa sekalipun yang mau belajar tentunya dapat belajar di luar sekolah. Melalui kehidupan sehari-hari seorang manusia dapat belajar terus menerus sepanjang hidupnya. Belajar segala hal yang jadi keinginan untuk diketahui dan dikuasainya.

Bagaimana belajar meditasi untuk mengembangkan diri?

Tunggu kelanjutannya pada tulisan berikutnya (Meditasi untuk Pengembangan Diri II)!

Baca Offline: