Belajar dari Pohon Pisang

Cerita ini aku tulis ketika terinspirasi dari pohon pisang yang berada di pekarangan rumahku.

Aku tinggal di suatu rumah yang berdiri di atas pekarangan peninggalan orang tua. Rumah kuno dengan model khas arsitektur jawa. Pekarangannyapun cukup luas dengan aneka macam tumbuhan yang hidup di situ. Di antara berbagai macam tumbuhan tersebut, terdapat salah satu tanaman yang membedakan dengan tanaman yang tumbuh pada umumnya pada kebun tetangga di sekitar rumah. Sebut saja tanaman tersebut adalah pisang kluthuk. Salah satu jenis pisang yang sudah mulai jarang ditanam orang.

Pernah suatu waktu aku ingin membabat habis pisang tidak berguna tersebut, tapi niat itu aku urungkan. Seketika aku mencoba untuk diam dan memperhatikan betapa bahagianya pisang tersebut. Hampir setiap hari ia mendapat kunjungan. Pada saat itu aku lihat, ia merasa berbahagia dan berguna.

“Hemh.., demikianlah kehidupan,” gumamku saat itu sambil menerawang. Anganku seketika terbang jauh ke negeri dongeng.

Kisah tentang Pisang Raja dan Pisang Kluthuk

Alkisah di suatu negeri, hiduplah seorang raja yang baik hati. Negeri itu terkenal sangat makmur. Tanahnya subur dan alamnya sangat indah. Jalan-jalan dan rumah tertata rapi. Berbagai macam tanaman pisang banyak ditemukan dan dapat tumbuh dengan baik di negeri itu. Orang-orang menyebut negeri itu dengan sebutan kerajaan Gedang Kamulyan.

Di antara segala macam kebaikan yang dicitrakan oleh kerajaan tersebut, ternyata ada salah satu rakyatnya yang kurang mendapat perhatian. Rakyat tersebut tinggal di pinggiran desa terpencil dan jarang dilibatkan dalam perhelatan negeri. Rakyat tersebut bernama si Kluthuk.

Pada suatu ketika, sang Raja Gedang Kamulyan akan mengadakan perhelatan besar. Kerajaan ingin mengadakan pesta tahunan yang spesial dan agak berbeda dari biasanya. Hal demikian dilakukan karena pada tahun ini negeri itu baru saja melakukan panen raya dengan hasil yang melimpah. Semua warga kerajaan tanpa terkecuali dilibatkan dalam perayaan. Hampir semua rakyatnya menyerahkan sebagian hasil panennya untuk digunakan dalam perayaan.

Di tengah-tengah acara persiapan perhelatan pesta raya sang Raja tampak gundah dan bingung. Beliau merasa ada yang kurang dari semua perlengkapan pesta yang telah disiapkan oleh semua rakyat dan punggawa kerajaan. Sang Raja menginginkan banyak daun berkualitas untuk digunakan mengemas makanan yang akan disajikan untuk para tamu undangan. Daun-daun yang sudah disiapkan oleh para punggawa kerajaan, kurang memenuhi standar yang diinginkan oleh sang Raja. Sekali lagi sang Raja memerintahkan kepada para punggawa kerajaan untuk mencari dan menemukan daun tersebut.

Para punggawa kerajaan segera menyebar ke seluruh pelosok negeri. Setiap penjuru didatangi, namun tiada membuahkan hasil. Akhirnya mereka menyerah dan melaporkan kegagalannya kepada sang Raja Gedang Kamulyan. Mereka merasa sudah berputar berkeliling ke seluruh pelosok negeri itu.

Mendengar laporan tersebut sang Raja hatinya semakin gundah gulana. Di tengah-tengah kegundahan hatinya, datanglah salah seorang rakyatnya yang selama ini luput dari perhatiannya. Dia adalah si Kluthuk dan tinggal di daerah yang sangat terpencil, di pinggiran negeri. Si Kluthuk datang dengan rasa was-was, berusaha memberanikan diri untuk menawarkan daun pisang yang diinginkan oleh sang Raja.
“Wahai sang Raja, mungkin daun yang saya bawa ini sesuai dengan yang dibutuhkan untuk pesta tahunan ini?” ujar si Kluthuk.
Tidak menunggu lama, sang Raja segera memeriksa daun yang dibawa oleh si Kluthuk tersebut. Seketika berbungalah hati sang Raja dan bekata, “Hai..hai, betul inilah daun yang saya inginkan untuk pesta yang istimewa ini. Wahai para punggawa, segeralah laksanakan pesta ini karena semua perlengkapan sudah tersedia.”

Akhirnya terselenggaralah pesta panen tahunan yang besar dan meriah. Semua bergembira dan bersuka cita. Seusai acara perhelatan pesta, sang Raja dalam kesendiriannya merenung. Di dalam perenungannya sang Raja merasa bersalah atas sikapnya yang kurang baik selama ini. Sang raja berjanji akan memperbaiki sikapnya itu. Pada akhir masa pemerintahannya, beliau berubah menjadi lebih bijak. Beliau lebih memperhatikan semua rakyatnya tanpa terkecuali. Keadaan negeri kerajaan Gedang Kamulyan menjadi lebih sejahtera bathin dan lahir. Rakyatnya hidup dalam kemakmuran dan keceriaan. Kehidupan warga negeri menjadi semakin berkualitas dan lebih bermakna.

Demikianlah cerita kehidupan.
Tidak ada yang terlalu hina atau lebih mulia. Kemuliaan adalah apabila di antara kita bisa saling bekerja sama, saling menghargai dan saling melengkapi.

Selamat tahun ajaran baru dan Salam PPK!