Menapak Jejak Spiritual Ki Ageng Suryomentaram

Ketika pandanganmu mulai kabur memandang sesuatu. Saat otot-otot tubuhmu mulai kendur dan  tak perkasa seperti dulu. Itulah tanda bagimu untuk menjenguk kalbu. Menanggalkan kaca matamu, meletakkan beban-beban dalam hidupmu. Menghela nafasmu, menyatukan pikiran, hati, dan perasaanmu. Akan kamu temukan tempat yang damai dan membahagiakan. Yang selalu menunggu di akhir perjalanan.

Tulisan kali ini, saya awali dengan satu kutipan pengantar renungan bagi masing-masing pribadi dalam diri setiap manusia. Kutipan tersebut mencoba untuk menyadarkan, agar tidak melulu selalu tergantung kepada produk-produk teknologi agar dapat senantiasa eksis dalam kehidupan ini. Kutipan tersebut mengajak untuk  merenungkan, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu difokuskan pada segal hal yang fana. Bahwa terdapat kehidupan lain di balik gegap gempitanya kehidupan duniawi ini. Sesekali waktu biarkanlah jiwa menjadi peka mendengarkan panggilan dari tempat asalnya ia berada.

Jangan-jangan lupa, atau jangan-jangan tidak sadar atau bahkan mungkin terlalu kuat terikat pada kefanaan? Sehingga suatu saat terkejut saat dihadapkan pada kehidupan lain sesudah kefanaan. Bukankah sudah sering dirasa, bahwa kita merasa berputar-putar bak pendaki yang tersesat. Memutari jalanan yang sama sehingga tak jua segera sampai tujuan. Seketika menginginkan rumah mewah, di saat lain menginginkan mobil, atau uang banyak. Terus berputar berusaha mencari kebahagiaan fana. Bukan kebahagiaan seperti yang setiap jiwa harapkan. Memang, setiap manusia tidak ditakdirkan untuk bahagia selamanya dalam kefanaan. Kebahagiaan kekal setiap jiwa berada di tempat lain. Di rumah jiwalah adalah kampung halamannya.

Seiring dengan itu, dahulu ketika dalam perjalanannya dari Jogjakarta menuju Solo beliau sempat tertegun tercerahkan. Ketika di sepanjang perjalan ia menyaksikan para petani yang sedang mencangkul mengolah sawah. Tubuh-tubuh yang menyatu dengan alam. Di bawah terpaan sinar matahari dan balutan keringat bercampur cipratan air tiap kali cangkul dihempaskan. Seketika itu ia terhenyak.
“Inilah kebahagiaan yang aku cari,” gumamnya.
“Kebahagiaan yang tidak selalu dapat ku temukan dalam lingkungan istana.”
Semenjak pengalaman itu kemudian beliau sering merasa gelisah. Ia kunjungi goa-goa, puncak-puncak gunung, hutan-hutan, dan tempat-tempat sepi lainnya. Di tempat-tempat itulah ia lanjutkan perenungannya. Mencari jawaban atas kegelisahannya. Hingga akhirnya beliau menetapkan diri membuat keputusan untuk hidup di luar lingkungan istana menjadi rakyat jelata.

Beliau adalah Ki Ageng Suryomentaram. Bernama kecil Raden Mas Kudiarmadji. Merupakan anak kesayangan Sultan Hamengkubuwana VII dari ibu Raden Ayu Retnomandojo putri Patih Danureja VI. Pada separoh kehidupannya ia merupakan salah satu dari sekian anak raja yang memilih untuk menjalani hidup sebagai rakyat jelata. Seperti halnya pangeran yang lain seperti Ki Hajar Dewantara, Ki Suryadirja, Ki Prawira Wirawa, Ki Prana Widagdo, Ki Sutapa Wanabaya, Ki Sujatmo, Ki Subono, dan Ki Suryaputra.

Salah satu buah spiritualitas Ki Ageng Suryomentaram adalah ajaran yang dinamai Kawruh Begja (Ilmu Bahagia). Ajaran yang berusaha merumuskan ilmu bahagia bagi kehidupan manusia pada umumnya. Di dalam ajarannya ini Ki Ageng Suryomentaram mengutarakan bahwa rasa bahagia berasal dari diri manusia itu sendiri. Beliau katakan juga bahwa di dalam diri manusia juga terdiri dari tiga unsur utama dan kekal yaitu zat, kehendak, dan aku. Zat, kehendak, dan aku merupakan asal dari segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia. Berbeda dengan zat dan aku yang tidak merasakan apa-apa, kehendaklah yang merasakan apa-apa. Seperti halnya zat, kehendak di dalam diri manusia tidaklah merasa ada. Hal ini tentu bertentangan dengan aku di dalam diri manusia yang selalu merasa ada. Demikianlah ulasan singkat seperti yang disampaikan oleh Ki Suryomentaram dalam ajarannya.

Dilihat dari sisi keduniawian, jelaslah terlihat bahwa Ki Ageng Suryomentaram bukanlah orang yang hidup dalam kekurangan. Kebahagiaan baginya bukan sesuatu yang mau menetap ketika segala kebutuhan terpenuhi. Hal demikian itu tak lebih dari sekadar kebahagiaan fana.

Pernah dikisahkan, sebelum pergi meninggalkan istana untuk menjalani hidup sebagai rakyat jelata beliau menjual semua harta bendanya. Hasil penjualan mobil diberikan kepada sopirnya, sedangkan uang hasil penjualan kuda dia berikan kepada abdi dalem yang merawat kudanya selama ini. Merunut pandangan Ki Ageng Suryomentaram, kebahagiaan adalah tentang bagaimana menyelaraskan antara zat, kehendak, dan aku.

“Bagaimana dengan aku?”
“Bagaimana dengan anda?”
“Bagaimana dengan kita?”

Tidak harus menjadi pengikut ajaran Ki Ageng Suryomentaram untuk sekadar dapat hidup bahagia. Tidak harus benar-benar memahami tentang bagaimana konsep menyelaraskan antara zat, aku, dan kehendak. Cukuplah sadar bahwa setiap saat ada dorongan untuk menemukan irama. Irama keselarasan antara zat, kehendak, dan aku. Mengalun membuai setiap jiwa untuk semakin membubung tinggi. Dorongan yang semakin hari semakin kuat ketika diberikan kesempatan. Dorongan untuk selalu mencari dan ingin menemukan bahwa ada kebahagiaan kekal yang semestinya mengisi dan menyesaki salah satu sudut ruang di dalam lubuk sanubari.

Rahayu!