Saudagar Kaya dan Anak Kecil yang Lusuh

Suatu ketika seorang saudagar pergi ke suatu kota kecil untuk mengunjungi sanak saudaranya. Sesampainya di kota tersebut, bertemulah ia dengan seorang anak kecil berpakaian lusuh seperti pengemis. Melihat penampilannyapun orang-orang akan merasa iba. Tak terkecuali saudagar tersebut.

Terdorong oleh rasa iba, saudagar merogoh kantung uang yang terselip di pinggangnya. Ia mengambil beberapa lembar uang kertas senilai 3 porsi bungkus nasi. Ia berpikir bahwa dengan memberikan uang tersebut maka ia akan dapat meringankan beban anak kecil tersebut untuk memenuhi kebutuhannya satu hari itu.

Sambil berniat mengayunkan langkah kaki untuk terus melanjutkan perjalanannya, saudagar itu memberikan uang tersebut. Tak disangka-sangka. Anak kecil yang lusuh tersebut menatap kemudian bertanya pada saudagar itu, “Apa ini tuan?”

“Ini uang untukmu!” jawab saudagar itu, “bisa kamu gunakan untuk membeli makanmu hari ini.”

“Maaf, tuan. Saya tidak bisa menerima uang ini..,” tukas anak kecil itu, “..saya tidak biasa menerima belas kasihan orang lain.”

“Ibu saya tidak mengajarkan ini pada saya. Biarlah saya bantu Tuan untuk membawakan barang-barang bawaannya. Setelah itu, barulah Tuan boleh memberikan uang pada saya…” anak kecil tersebut menawarkan diri.

“Baiklah jika kamu memaksa, Nak!” jawab Saudagar tersebut mengalah.

Kemudian saudagar tersebut melanjutkan perjalanannya. Dalam sisa-sisa perjalanannya, saudagar tersebut merenung. Betapa anak kecil lusuh yang baru ia temui mengajarkan padanya sifat-sifat yang mulia. Meskipun ia terlihat sebagai orang yang berkekurangan secara ekonomi, namun sedikitpun tidak mau dibelas kasihi. Keadaan ini bertolak belakang dengan kenyataan yang sering terjadi di sekitar tempat asalnya. Di tempat asalnya, dalam kehidupan sehari-hari lebih mudah menemukan orang-orang yang memperlihatkan diri bahwa dirinyalah yang paling pantas untuk dikasihani. Berbekal harapan untuk mendapatkan uang mudah, tanpa mau mengeluarkan sedikit keringat agar tidak lelah.

Bukankah alam sudah demikian terbangun sistem. Sistem yang mengharuskan agar para penghuninya untuk berjalan agar sampai pada tujuan. Bukan ditarik, juga bukan didorong oleh sesamanya untuk sampai pada tujuannya. Bukan pula ketekunan bersikap merendahkan diri agar disuapi terus menerus untuk mengenyangkan perutnya. Alam sudah mengajarkan bahwa perlakuan demikian tersebut hanyalah pantas untuk anggota manusia baru, atau orang-orang yang tidak memiliki kemampuan. Bukan lantas kemudian berbangga hati menggolongkan diri menjadi kelompok orang-orang yang tidak mampu. Saudagar itu semakin jatuh tenggelam dalam lamunannya dan membayangkan…

“Apa yang akan terjadi jika 10 orang dari suatu komunitas berisikan 8 orang yang memiliki mental demikian.”

Sejak awal harus dibangun kesadaran pada setiap diri manusia. Mengembangkan diri, meningkatkan kemampuan. Memacu dan menyemangati diri agar tidak memberikan kesempatan mental-mental terbelakang mengemuka menjadi fenomena yang lazim dalam komunitas bangsa.