Perbedaan Guru dengan Murid

Baca Offline:

Pada zaman dahulu kala di pondok kecil yang jauh dari keramaian kota, hiduplah seorang guru dengan beberapa muridnya. Guru itu dikenal sebagai guru yang bijaksana. Guru berintegritas dalam memberikan pencerahan pada murid-muridnya. Sang Guru selalu mempunyai jawaban-jawaban dengan pendekatan yang berbeda setiap kali menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya. Pada suatu ketika salah satu muridnya melemparkan satu pertanyaan yang agak berbeda dari biasanya.

Murid: “Guru, apakah bedanya guru dengan murid?”

Sang guru sepuh itu tidak langsung menjawab pertanyaan salah seorang muridnya. Beliau diam sejenak sambil mengernyitkan dahi. Tak lama kemudian sambil tersenyum lembut, guru itupun membuka suara dan menjawab…

Guru: “Nak, bedanya guru dengan murid itu adalah murid hanya dapat melihat sesuatu yang terlihat, sedangkan guru dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat.”

Murid: “Guru dapat melihat hantu…???”

Guru: “Iya, tetapi bukan hantu seperti yang ada di dalam pikiranmu.”
“Guru melihat, kalian yang sekarang rajin menemukan jawaban kelak akan memiliki banyak jawaban. Jawaban yang kamu kumpulkan kelak akan menjadikanmu sebagai orang yang berpengetahuan. Kamu yang rajin mengembangkan sikap positif, kelak akan menjadi manusia luhur dan berkepribadian mulia.”
“Tekunlah dalam belajarmu anak-anakku, giatlah dalam berlatih!”
“Bentuklah kepribadianmu dengan sikap karakter yang luhur. Tidak ada yang kebetulan. Semua yang akan datang dan terjadi kelak dalam hidupmu adalah semua undanganmu yang sejak sekarang kalian tebarkan.”

Sesaat sang Guru itupun menghentikan pembicaraannya sambil menghela nafas…, memperhatikan mimik muka satu persatu muridnya.

Guru: “Inilah bedaku dengan bedamu, anak-anakku! Aku mampu melihat dengan mata ketiga. Orang lain juga menyebutnya sebagai mata hati atau mata jiwa. Mata yang terbentuk pada diri manusia karena pengalaman hidupnya, karena pengetahuan-pengetahuannya, karena ketekunannya menggali, mengumpulkan, dan memunguti cuilan-cuilan kecil pengetahuan. Para guru yang baik tidak hanya puas dengan memiliki pengetahuan bagi kepentingan jasmanimu. Para guru yang bijaksana juga menginginkan pengetahuan yang dapat mengembangkan kepribadian dan kehidupan rohanimu. Agar kelak kalian akan menjadi manusia-manusia yang bermartabat dan bermanfaat. Bukan hanya bermanfaat bagi sesamamu manusia, tetapi juga mencakup bagi kehidupan alam semesta raya.”

Semua murid yang berkumpul di situ terdiam. Suasana menjadi hening… Semua tercenung merenungkan perkataan dan nasehat gurunya. Saat itu, semua murid merasa mendapatkan pengetahuan dan semangat baru. Mereka semakin tekun belajar, giat berlatih, dan telaten mengembangkan sikap-sikap mulia demi membentuk kepribadian luhur.

Baca Offline: